Awalnya tinggallah beberapa orang dibantaran sungai Riam Kiwa (pinggir Sungai, Bjr) sebagaimana layaknya budaya orang Indonesia dahulu (terutama suku Banjar) kalau bangun rumah, bangunlah dipinggir sungai dengan alasan agar mudah ngambil air untuk kebutuhan masak-memasak dan lainnya. Tahun demi tahun masa demi masa masyarakat dari daerah lain mulai berdatangan dengan tujuan membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan, masyarakat yang datang ke daerah ini pun juga cukup beragam, ada yang berasal dari Banjarmasin, Martapura, Rantau, Kandangan dan bahkan ada yang datang dari pulau seberang seperti : Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
Secara historis, Desa Rantau Nangka dibelah oleh Sungai Riam Kiwa , dahulu kala sebelum jalan darat dibangun secara permanen seperti sekarang ini, masyarakat yang berdiam disepanjang Sungai Riam Kiwa ini menjadikan Sungai Riam Kiwa ini untuk prasarana transportasi jika mau kekota untuk mencari Sembako Sembilan bahan pokok.
Alat transportasi yang dipakai adalah perahu dan Rakit bambu.
Masyarakat yang datang ke kampoeng ini memiliki niat yang sama disamping untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan, juga ingin menjadikan daerah ini menjadi sebuah kampoeng yang memiliki pimpinan seperti Pambakal yang dilengkapi dengan perangkat kampoeng lainnya. Dengan proses yang panjang akhirnya jadilah sebuah kampoeng.
Menurut sejarah asal usul Desa bernama Rantau Nangka adalah berasal dari ditemukannya Pohon Nangka yang cukup besar yang hidup dan tumbuh di atas Rantauan Sungai Riam Kiwa, maka sejak itu desa ini disebut Rantuan Nangka setelah berdiri Pemerintahan yang waktu itu Indonesia secara umum masih dibawah kekuasaan penjajah tak terkecuali Pulau Borneo secara khusus, lebih kecil lagi desa ini juga dalam cengkeraman Penjajah, oleh penemu dan pendiri desa ini ditetapkanlah nama kampoeng ini menjadi kampoeng Rantau Nangka.
Kampoeng Rantau Nangka secara resmi berdiri sekitar tahun 1920, dengan Pambakal pertama bernama SAGIR putera dari DJANUN salah satu tokoh penemu dan pendiri kampoeng ini yang berasal dari keturunan Dayak Meratus yang memeluk Agama Islam.
Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya penduduk di wilayah ini, oleh Pemangku kebijakan waktu itu sebagai wujud kepedulian untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat maka 5 Desa yang ada disepanjang Sungai Riam Kiwa, Yaitu : Belimbing, Rantau Bakula, Rantau Nangka, Sungai Pinang dan termasuk Kahelaan 5 Kampoeng ini dibentuklah menjadi 1 kecamatan tersendiri tidak lagi bergabung ke Pangaron, pusat pemerintahan kecamatan yang baru dibentuk ini disepakati berpusat di Belimbing
Ringkasnya dari dulu hingga sekarang Rantau Nangka masuk dalam wilayah administrasi Pemerintah Kabupaten Banjar yang ibu kotanya Martapura. Sejak dahulu hingga sekarang desa Rantau Nangka sudah beberapa kali melakukan pergantian dan pemilihan Pambakal . Adapun nama-nama Pambakal dan Penjabat Pambakal yang pernah memimpin Desa Rantau Nangka sejak dulu hingga sekarang dapat kami gambarkan sebagaimana berikut:
|
No |
Nama |
Tahun |
|
1 |
Sagir |
1933-1943 |
|
2 |
Dahrun |
1943-1953 |
|
3 |
Ajim |
1953-1954 |
|
4 |
Abdurrahman |
1954-1971 |
|
5 |
Kasrah |
1971-1978 |
|
6 |
H.Abd Halim |
1978-2001 |
|
7 |
M.Yusuf Utama ( PJS ) |
2001-2002 |
|
8 |
H.Syahran |
2002-2007 |
|
9 |
M.Yusuf Utama ( PJS ) |
2007-2008 PJS |
|
10 |
H.Hairil Anuar |
2008-2022 ( Desember ) |
|
11 |
Herman |
2022 ( Sekarang ) |
Sebagai salah satu kampoeng tua yang mempunyai sejarah tersendiri. Sebagaimana diterangkan diatas bukan berarti kampoeng ini sudah mapan akan tetapi masih sangat memerlukan sentuhan pembinaan yang berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Banjar.
Corak ragam masyarakat kampoeng Rantau Nangka yang merupakan, pembauran antara budaya suku asli Banjar dengan Suku Jawa merupakan suatu kekayaan budaya yang perlu dilestarikan.
Tradisi dan Budaya masyarakat kampoeng Rantau Nangka sebagaimana budaya dan tradisi masyarakat Banjar lainnya yang masih hidup dan lestari hingga sekarang
yaitu antara lain seperti :
" Acara Mandi-mandi pada waktu hamil 7 bulanan, Ba-ayun Mulud ketika anak barusia 7 - 40 hari kelahirannya.
Kesenian tradisional yang pernah dimiliki oleh masyarakat kampoeng Rantau Nangka yaitu antara lain : Mamanda, Japin Banjar (musik penting), Kurung-kurung yang dipakai sewaktu menugal di Ladang, Kuda Lumping dan Kerawitan yang biasa dilakukan oleh masyarakat yang berasal dari suku Jawa, Pencak silat ditampilkan ketika acara hajatan seperti perkawinan. Namun kesenian tersebut diatas saat ini sebagian sudah tidak ada lagi antara lain seperti : Mamanda dan Kurung-kurung ini sudah sangat jarang dilaksanakan".
Demikian sekelumit sejarah kampoeng Rantau Nangka semoga bermanfaat bagi generasi penerus kampoeng Rantau Nangka karena ada kata mutiara
“ Bangsa yang baik adalah bangsa yang selalu mengingat dan menghargai jasa Pejuang / Pahlawannya “
Sumber Data :
I.Mantan Pejabat
1) Dahrun
2) Ajim
3) Abdurrahman
4) Anang Kasrah
5) H.Abdul Halim
II. Tokoh Masyarakat
1. H.Ani
2. Dahri
3. Sahlan
4. HM.Thaiyib
5. A.Sampurna
6. H.Tuhacil Jamiri